Jumat, 24 Februari 2012

Perempuan Inggris Keluarkan Kocek Rp 14 M untuk Kosmetik


TRIBUNNEWS.COM - Para perempuan di Inggris ternyata memiliki sifat royal dalam hal kecantikan. Betapa tidak, hanya demi terlihat cantik, mereka rela merogoh kocek dalam-dalam untuk membeli berbagai produk perawatan kulit terbaik.
Maka tak heran, dalam setahun sekitar Rp 14 miliar dihabiskan para perempuan di Inggris untuk membeli berbagai produk perawatan kulit ini. Sayangnya, tidak semua produk ini nantinya akan dipakai. Rata-rata mereka akan membuang sekitar 3/4 dari seluruh jumlah kosmetik yang mereka beli.
Konsumen terbesar dari produk kecantikan ini adalah para perempuan berusia 18-34 tahun.
Lebih dari satu orang dalam kelompok usia ini mengakui memiliki 20 produk kecantikan sekaligus. Rata-rata mereka membeli sekitar delapan jenis produk, namun hanya dua jenis yang benar-benar digunakan. Satu dari tujuh perempuan juga mengaku menimbun produk tersebut sampai tiga tahun lamanya.
Selain sebagai konsumen terbesar, perempuan di kisaran usia ini juga termasuk dalam kelompok penyumbang limbah terbesar karena mereka sering membiarkan tutup botol kosmetik selalu terbuka, sehingga membuatnya cepat rusak dan tidak lagi bisa digunakan. Tidak mengherankan bila dalam suatu penelitian terungkap bahwa rata-rata perempuan di Inggris menyumbangkan 75 persen limbah dari produk kecantikan.
Bagi beberapa perempuan, uang tampaknya tidak menjadi masalah demi mendapatkan produk perawatan kulit yang sempurna. Perempuan dengan kelompok usia lebih matang, sekitar 25-34 tahun, mengakui bahwa mereka bisa menghabiskan sekitar Rp 2 juta sekaligus untuk membeli berbagai produk kecantikan.
Rasa takut akan timbulnya keriput dan noda akan semakin meningkat pada kisaran usia 25 tahun, dan perempuan mulai menghabiskan uang lebih untuk perawatan. Namun, ketika sudah menginjak usia 55 tahun, mereka cenderung mulai pasrah dan bisa menerima kondisi kulit mereka, sehingga sudah tidak terlalu berjuang keras untuk membeli produk kecantikan kulit.

 Free Automatic Backlink
1000 Backlinks
Free 100K Backlinks
Backlinks Center
Free SEO Backlinks
Instant Backlinks
SEO Bookmarks
Dofollow Backlinks
Premium Backlinks
Top SEO Backlinks

Ingat! Demensia Bisa Menurunkan Kemampuan Memori dan Intelektual And








REPUBLIKA.CO.ID, SANUR, BALI - Pakar penyakit syaraf Indonesia Prof Mohammad Hasan Machfoed, SpS (K) mengemukakan bahwa penyakit demensia (kepikunan) menyebabkan menurunnya dua kemampuan sekaligus yakni memori dan intelektual manusia.
"Selain memori, demensia ini akan menurunkan intelektual, kemudian ada perubahan perilaku, otak yang sebelumnya mudah menganalisa sesuatu kemudian menjadi tumpul," katanya di Sanur, Bali, Jumat (4/11) pagi.
Ditemui disela-sela konferensi ASEAN Neurological Association (ASNA) 2011, guru besar Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga (Unair) Surabaya itu menjelaskan bahwa semua penyakit itu akan memengaruhi baik sumber daya manusia, produktivitas, maupun efektivitasnya.
"Jadi kalau ditanya penyakit apapun namanya, apapun penyebabnya, itu akan menurunkan kemampuan sumber daya manusia termasuk demensia," kata Mohammad Hasan Machfoed yang baru saja terpilih menjadi Ketua Perhimpunan Dokter Spesialis Syaraf Indonesia (Perdossi) itu.
Hanya saja, katanya, khusus untuk demensia, selain memori juga akan menurunkan daya intelektual, yang kemudian ada perubahan perilaku, terkait fungsi otak dimaksud. Dalam kaitan tersebut, kata dia, seseorang sudah tidak bisa berfikir dan malahan kadang-kadang sudah tidak menyadari di mana dirinya. "Nah, kalau itu saja sudah sulit, apalagi kalau berfikir analitis," katanya.
Menjawab pertanyaan, apakah perlu ada kebijakan khusus menangani demensia karena berpengaruh kepada produktivitas manusia, ia menjelaskan bahwa hal itu memang diperlukan. Namun, katanya, dengan urusan masalah pemerintah yang disebutnya 'sudah luar biasa banyak', tuntutan semacam itu tidak bisa serta merta dapat diwujudkan oleh pihak berwenang, dalam hal iniKementerian Kesehatan.
"Yang bisa dilakukan, seharusnya adalah melalui pola hidup yang sehat, terutama yang sudah dianjurkan pemerintah," katanya.
Ia menyebutkan bahwa Pusat Intelegensia Kesehatan (PIK), suatu lembaga resmi di bawah Kemenkes telah mencanangkan 'Dekade Sehat Otak', sehingga sudah ada program-program yang baik. Program dimaksud, katanya, seperti bagaimana mengukur intelegensi seseorang, sehingga tentu akan berhubungan dengan lembaga PIK itu. "Jadi saya kira (programnya, red.) sudah ke arah sana," katanya.
Ia mengatakan bahwa kalau di negara-negara barat, mereka sudah mempunyai program yang sudah pasti untuk kelompok yang disebut 'old society' itu. Secara umum, katanya, kasus demensia di Indonesia mulai terjadi pada usia 45 tahun, meski juga ada kasus ditemukan pada usia sekitar 30 tahun.
"Namun umumnya bisa muncul pada usia 45 dan sudah terjadi karena 'life style' tadi," katanya.
Salah satu peserta konferensi ASNA 2011 yang juga ahli penyakit syaraf dr Andreas Harry, SpS (K) menyatakan bahwa konferensi dokter ahli syaraf dunia tentang penyakit Alzheimer di Paris, Prancis pada Juli 2011 memperkirakan bahwa penderita demensia di negara-negara berkembang akan meningkat drastis.
"Di negara-negara berkembang, jumlah penderita demensia akan meningkat lebih dramatis selama dekade berikutnya, diperkirakan tiga sampai kali lipat lebih tinggi daripada di negara maju," kata Andreas Harry, yang juga dosen pascasarjana Fakultas Psikologi Universitas Tarumanegara (Untar) Jakarta.
Ia mengemukakan, secara epidemiologi, di Amerika Serikat maupun Eropa, prevalensi maksimal penderita demensia pada usia lanjut (demensia senilis) sebesar lima persen pada populasi yang berusia lebih 65 tahun. Persentase itu, kata dia, meningkat menjadi 20 persen pada populasi yang berusia lebih 80 tahun.
"Penyakit Alzheimer diperkirakan sebesar 60 persen dari seluruh penderita demensia," katanya.
Ia mengemukakan bahwa berdasarkan penelitian epidemiologi di Amerika Serikat, prevalensi penyakit Alzheimer sebesar tiga persen pada populasi berusia 60-74 tahun, 18,7 persen populasi berusia 75-84 tahun, dan 47,2 persen populasi berusia lebih dari 85 tahun.
"Sehingga diperkirakan pada tahun 2040 terdapat 14 juta penderita Alzheimer dan akan menjadi penyebab kematian nomor empat di Amerika Serikat," kata dosen luar biasa Fakultas Kedokteran Universitas Hassanudin (Unhas) Makassar 1996-2001 itu.
ASNA adalah forum dua tahunan para dokter ahli syaraf di Asia Tenggara, sebagai ajang komunikasi dan pertukaran pengetahuan di kalangan dokter ahli syaraf se-Asia Tenggara (ASEAN). Konferensi ASNA 2011, berlangsung sejak 2-5 November 2011 di Sanur, Bali, yang diikuti lebih dari 400 peserta se-ASEAN.
 Free Automatic Backlink
1000 Backlinks
Free 100K Backlinks
Backlinks Center
Free SEO Backlinks
Instant Backlinks
SEO Bookmarks
Dofollow Backlinks
Premium Backlinks
Top SEO Backlinks

Menyusui Tekan Risiko Hipertensi






TRIBUNNEWS.COM - Ibu yang menyusui bayinya secara eksklusif selama minimal 6 bulan, berisiko kecil terkena hipertensi di kemudian hari. Meskipun tidak menunjukkan penyebab langsung dari tekanan darah tinggi, temuan ini menambah bukti bahwa menyusui bermanfaat baik bagi ibu dan bayi. Studi ini telah diterbitkan dalam American Journal of Epidemiology.
Menyusui memiliki banyak manfaat, misalnya melindungi bayi terhadap penyakit seperti diare dan infeksi telinga tengah. Bahkan dalam penelitian sebelumnya, diketahui bahwa menyusui bisa mengurangi risiko diabetes, kolesterol tinggi, dan penyakit hati pada ibu di kemudian hari.
“Wanita yang tidak menyusui lebih rentan terhadap hipertensi daripada wanita yang menyusui secara eksklusif selama minimal 6 bulan atau lebih,” tulis peneliti Alison Stuebe, dari Universitas North Carolina, seperti dilaporkan oleh Reuters.
Dalam studi ini, korelasi antara menyusui dengan risiko tekanan darah tinggi pada 56.000 wanita Amerika diamati oleh Stuebe dan timnya. Semua wanita peserta responden, memiliki setidaknya satu bayi.
Secara keseluruhan, studi ini menunjukkan bahwa wanita yang menyusui bayinya setidaknya 6 bulan berisiko kecil hipertensi selama 14 tahun berikutnya dibandingkan dengan ibu yang hanya memberikan susu botol. Sementara, hampir 9.000 wanita didiagnosis menderita hipertensi. Ibu yang tidak menyusui bayinya memiliki risiko 22% lebih tinggi dibandingkan ibu yang menyusui secara eksklusif.
Stuebe mengatakan tidak ada temuan yang membuktikan bahwa menyusui memberikan perlindungan jangka panjang terhadap hipertensi. Namun dalam studi pada hewan, ditemukan bahwa hormon oksitosin, memiliki efek langsung terhadap tekanan darah.

Free Automatic Backlink
1000 Backlinks
Free 100K Backlinks
Backlinks Center
Free SEO Backlinks
Instant Backlinks
SEO Bookmarks
Dofollow Backlinks
Premium Backlinks
Top SEO Backlinks

limasore: Ini Dia Tempat Kerja Terasyik di Seluruh Dunia...

limasore: Ini Dia Tempat Kerja Terasyik di Seluruh Dunia...: REPUBLIKA.CO.ID, NEW YORK--Di mana kantor yang paling asyik di seluruh dunia? Majalah bergengsi Time mengutip The Great Place to Wor...


Free Automatic Backlink
1000 Backlinks
Free 100K Backlinks
Backlinks Center
Free SEO Backlinks
Instant Backlinks
SEO Bookmarks
Dofollow Backlinks
Premium Backlinks
Top SEO Backlinks

Mengapa Teriakan Bayi Sulit Diabaikan?






LONDON - Beberapa di antara kita mungkin bisa mengebaikan suara obrolan, alarm atau kicauan burung, tapi sepertinya itu berbeda ketika mendengar seorang bayi menjerit. Mengapa suara bayi yang menjerit hampir tidak mungkin bisa diabaikan?
Hal ini menurut sebuah studi terbaru, sebagai hasil sederhana dari evolusi. Ketika dikelilingi oleh suara-suara dan gangguan, telinga secara otomatis menyelaraskan dengan tangisan seorang bayi. Ini menurut para ahli karena orang dewasa secara biologis, diprogram untuk merespons anak ketika dalam kesulitan.
Mendengar bayi menangis menempatkan tubuh pada keadaaan responsif yang tinggi, sehingga dapat menjelaskan mengapa anak-anak yang berisik lebih sulit untuk diabaikan daripada obrolan dewasa, suara alarm atau suara alam seperti kicauan burung.
Dilansir Telegraph, Sabtu (21/1/2012), Prof Morten Kringelbach, seorang ahli syaraf di Oxford University mengatakan, "Beberapa suara cukup memancing rekasi yang mendalam, seperti tangisan bayi."
"Sebagai contoh, hampir tidak mungkin untuk mengabaikan tangisan bayi di pesawat dan menimbulkan ketidaknyamanan, meskipun ada suara dan gangguan lain di sekitar," jelasnya.
Penelitian yang dipimpin oleh Kringelbach menguji teori ini, dengan memainkan berbagai suara yang berbeda pada 40 orang relawan.
Penelitian yang diterbitkan dalam jurnal Acta Paediatrica, menemukan bahwa skor relawan yang ditentukan dengan seberapa cepat mereka bisa memukul sembilan tombol, lebih tinggi setelah adanya rekaman tangisan bayi.
Hal tersebut terjadi, karena menurut Kringelbach, tingkat respon yang meningkat bisa disebabkan oleh sistem peringatan yang berkembang dan bereaksi ketika bayi membutuhkan perhatian.

Sumber : http://berita.plasa.msn.com/wow/okezone/article.aspx?cp-documentid=5804875

 Free Automatic Backlink
1000 Backlinks
Free 100K Backlinks
Backlinks Center
Free SEO Backlinks
Instant Backlinks
SEO Bookmarks
Dofollow Backlinks
Premium Backlinks
Top SEO Backlinks